Berita UKM
Registrasi Profil Terbaru
Bisnis UKM
‹
›
Profil UKM
Berita UKM
Profil UKM
Inspirasi Usaha
Videos
Jakarta - Mantan Wakil Gubernur Bali periode 2008-2013, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga ini resmi menjabat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan 34 nama menteri dan dua wakil menteri di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10).
Puspayoga yang kini usianya 49 tahun ini menggantikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarif Hasan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009-2014.
"Profesional partai, aktif kembangkan kewirausahaan, serta paham dengan usaha kecil yang berhubungan dengan pariwisata," kata Jokowi mempromosikan Puspayoga saat umumkan nama-nama menteri, Jakarta, Minggu (26/10).
Puspayoga lahir di Denpasar, Bali, 7 Juli 1965. Ia menyelesaikan studi S1 di Universitas Ngurah Rai, Denpasar pada 1991. Darah politisi mengalir dari ayahnya Cok Sayoga yang pernah menjabat Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Bali.
Hal ini pula yang menyebabkan Puspayoga gagal untuk bersekolah di Australia pada tahun 1984.
Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ia ingin melanjutkan pendidikan tinggi di negara Kangguru itu. Karena itu, Puspayoga kemudian mengambil program matrikulasi untuk kemampuan berbahasa Inggris.
Tapi setelah lebih dari satu tahun menjelang masuk ke Universitas, tiba-tiba sang Ayah memanggilnya pulang untuk mengurus Partai. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan sosial politik Universitas Ngurah Rai.
Di sela-sela kesibukan, diskusi dengan sang ayah terus berlanjut. Satu ajaran yang dikenangnya adalah pesan sang ayah untuk melakoni ajaran kakek buyutnya, Raja Badung Tjokorda Ngurah Made Agung yang meninggal dalam Puputan Badung 20 September 1906.
Ajaran itu menyebut adanya “Mati tan tumut pejah” atau “Kematian yang bukan Kematian”. Yakni ketika seorang pemimpin mati demi kebaikan dan kebenaran. “ Prinsip itulah yang saya terapkan dalam berpolitik hingga saat ini,” ujar Puspayoga.
Keteguhan hatinya telah terbukti di jaman PDI mengalami kesengsaraan di masa Orde Baru. Setiap kali pemilu dilaksanakan, maka tekanan itu makin kuat hingga terjadi bentrokan secara fisik dimana-mana. Puncaknya adalah ketika PDI dipecah-belah dengan menyempalnya kelompok Soerjadi dari kepemimpinan Megawati dengan dukungan dari kekuasaan.
Pada pemilu 1997, PDI Pro Mega dilarang untuk ikut pemilu sehingga harapan untuk berperan di kancah politik formal seperti tertutup. Saat itu, Puspayoga malah ditunjuk untuk memimpin DPC PDI Denpasar.
Karir politik Puspayoga pun melejit mulai dari jabatan Ketua DPRD Denpasar, Walikota Denpasar periode 2000-2005 dan 2005-2008 serta Wakil Gubernur Bali.
Pada 2013, Puspayoga bersaing dengan I Made Mangku Pastika, yang tak lain rekannya sesama memimpin Pulau Dewata tahun sebelumnya.
Pasangan I Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang didukung oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Hanura, PAN, PNBK, PKPB dan PKPI serta Gerindra mengalahkan pasangan Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Sukrawan didukung PDIP.
Semangat perjuangan bagi Puspayoga diterjemahkan dengan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat serta menolak godaan korupsi.
“Karena itu ketika menjadi walikota, saya justru mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan pendampingan,” ujarnya.
Ia pun ingin mencegah adanya pejabat yang harus masuk korupsi hanya karena kesalahan menafsirkan aturan. Adapun untuk mencegah kolusi, dia adalah kepala daerah pertama di Bali yang mendirikan dinas perijinan guna menerapkan transparansi proses dan peraturan. Sebelumnya, pengurusan ijin tersebar di sejumlah SKPD sehingga rawan kolusi dan kurang efektif. (mam)
Biodata
-Nama Lengkap : Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
-Tempat dan Tanggal Lahir: Denpasar, Bali, 7 Juli 1965
-Usia: 49 tahun
-Pendidikan: S1 di Universitas Ngurah Rai
Karier
-Wakil Gubernur Bali periode 2008-2013
-Wali Kota Denpasar periode 2000-2005 dan 2005-2008
Penulis: MAM/FQ
Sumber:Investor Daily
Puspayoga yang kini usianya 49 tahun ini menggantikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarif Hasan pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009-2014.
"Profesional partai, aktif kembangkan kewirausahaan, serta paham dengan usaha kecil yang berhubungan dengan pariwisata," kata Jokowi mempromosikan Puspayoga saat umumkan nama-nama menteri, Jakarta, Minggu (26/10).
Puspayoga lahir di Denpasar, Bali, 7 Juli 1965. Ia menyelesaikan studi S1 di Universitas Ngurah Rai, Denpasar pada 1991. Darah politisi mengalir dari ayahnya Cok Sayoga yang pernah menjabat Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Bali.
Hal ini pula yang menyebabkan Puspayoga gagal untuk bersekolah di Australia pada tahun 1984.
Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ia ingin melanjutkan pendidikan tinggi di negara Kangguru itu. Karena itu, Puspayoga kemudian mengambil program matrikulasi untuk kemampuan berbahasa Inggris.
Tapi setelah lebih dari satu tahun menjelang masuk ke Universitas, tiba-tiba sang Ayah memanggilnya pulang untuk mengurus Partai. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan sosial politik Universitas Ngurah Rai.
Di sela-sela kesibukan, diskusi dengan sang ayah terus berlanjut. Satu ajaran yang dikenangnya adalah pesan sang ayah untuk melakoni ajaran kakek buyutnya, Raja Badung Tjokorda Ngurah Made Agung yang meninggal dalam Puputan Badung 20 September 1906.
Ajaran itu menyebut adanya “Mati tan tumut pejah” atau “Kematian yang bukan Kematian”. Yakni ketika seorang pemimpin mati demi kebaikan dan kebenaran. “ Prinsip itulah yang saya terapkan dalam berpolitik hingga saat ini,” ujar Puspayoga.
Keteguhan hatinya telah terbukti di jaman PDI mengalami kesengsaraan di masa Orde Baru. Setiap kali pemilu dilaksanakan, maka tekanan itu makin kuat hingga terjadi bentrokan secara fisik dimana-mana. Puncaknya adalah ketika PDI dipecah-belah dengan menyempalnya kelompok Soerjadi dari kepemimpinan Megawati dengan dukungan dari kekuasaan.
Pada pemilu 1997, PDI Pro Mega dilarang untuk ikut pemilu sehingga harapan untuk berperan di kancah politik formal seperti tertutup. Saat itu, Puspayoga malah ditunjuk untuk memimpin DPC PDI Denpasar.
Karir politik Puspayoga pun melejit mulai dari jabatan Ketua DPRD Denpasar, Walikota Denpasar periode 2000-2005 dan 2005-2008 serta Wakil Gubernur Bali.
Pada 2013, Puspayoga bersaing dengan I Made Mangku Pastika, yang tak lain rekannya sesama memimpin Pulau Dewata tahun sebelumnya.
Pasangan I Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang didukung oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Hanura, PAN, PNBK, PKPB dan PKPI serta Gerindra mengalahkan pasangan Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Sukrawan didukung PDIP.
Semangat perjuangan bagi Puspayoga diterjemahkan dengan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat serta menolak godaan korupsi.
“Karena itu ketika menjadi walikota, saya justru mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan pendampingan,” ujarnya.
Ia pun ingin mencegah adanya pejabat yang harus masuk korupsi hanya karena kesalahan menafsirkan aturan. Adapun untuk mencegah kolusi, dia adalah kepala daerah pertama di Bali yang mendirikan dinas perijinan guna menerapkan transparansi proses dan peraturan. Sebelumnya, pengurusan ijin tersebar di sejumlah SKPD sehingga rawan kolusi dan kurang efektif. (mam)
Biodata
-Nama Lengkap : Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
-Tempat dan Tanggal Lahir: Denpasar, Bali, 7 Juli 1965
-Usia: 49 tahun
-Pendidikan: S1 di Universitas Ngurah Rai
Karier
-Wakil Gubernur Bali periode 2008-2013
-Wali Kota Denpasar periode 2000-2005 dan 2005-2008
Penulis: MAM/FQ
Sumber:Investor Daily
Berita UKM
Dulu, menjadi pengusaha tak pernah sekalipun terlintas di benak Liche Lidiawati. Selepas SMA, dia memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Namun, siapa sangka, kini Liche muncul sebagai pengusaha kue kering yang sukses mengantongi omzet miliaran rupiah saban tahun.
Bakat memasak sudah terlihat pada diri Liche sejak duduk di bangku SMA. Memiliki ibu yang hobi memasak, secara tak sengaja, menumbuhkan kecintaan Liche pada dunia masak-memasak. Lantas, sejak punya anak, Liche makin sering terjun di dapur, terutama untuk membuat kue kering.
“Awalnya saya hanya mengkreasikan makanan yang disukai anak-anak menjadi kue kering, seperti sereal coco crunch,” kisah perempuan yang 30 tahun menjadi dokter gigi di Pertamina ini.
Liche pun mengisahkan, dulu kue kering dibuat berdasarkan resep milik sang ibu. Ia sama sekali tak pernah ikut les membuat kue karena menurutnya resep dari ibunya sudah cukup.
Ternyata, penggemar kue kering bikinan Liche tak terbatas pada ketiga orang putranya. Banyak teman kantornya juga menyukai kue buatan Liche. Lantas, sejak 1996, Liche mulai menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples.
Setiap hari sepulang kerja, mulai pukul 18.00 hingga 01.00, Liche membuat kue pesanan teman-temannya. Ketika pesanan bertambah banyak, dia melibatkan tiga asisten rumah tangganya.
Lantaran rasa yang enak dan gurih, kue kering buatan Liche semakin laku. Order kue kering pun membeludak. Padahal ia mengaku tidak pernah menawarkan kue kering kepada orang-orang. Justru, konsumen yang rajin untuk merekomendasikan kue Liche kepada orang-orang.
Ketika krisis moneter melambungkan harga bahan baku kue, Liche sempat berpikir untuk mengerem laju usahanya dan mengurangi produksi. Akan tetapi, di luar dugaan, banyak konsumen yang justru mencari kue kering buatannya untuk Lebaran, meski harganya naik. Dari situlah, Liche menyadari tingginya kebutuhan kue kering pada saat Hari Raya.
Tak mau melewatkan kesempatan, Liche menambah karyawannya menjadi 10 orang. Dia juga membeli rumah persis di samping rumahnya untuk memperluas tempat produksi.
Tahun 2000-an, Liche mulai menerapkan sistem keagenan. “Pesanan selalu banyak. Akan tetapi, karena ini bisnis hobi, saya tidak terlalu memusingkan manajemen,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1955, ini. Saat itu, agen kue Liche hanyalah orang-orang yang ia kenal di tempat kerja.
Makin serius menekuni bisnisnya, Liche pun terus menambah varian kue kering. Beragam bahan baku, seperti buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat, ia racik menjadi varian baru kue kering. Liche mengatakan, kakak iparnya, yang juga pembuat kue, kerap memberi masukan untuk resep dan ide kue baru.
Semakin besar bisnis, jumlah karyawan Liche terus bertambah, begitu juga dengan kapasitas produksinya. Pada 2002, dia mendirikan pabrik seluas 600 meter persegi untuk menampung sekitar 80 karyawan. Tak tanggung-tanggung, Liche membenamkan investasi hingga Rp 1 miliar, di antaranya untuk membeli tiga oven.
Manajemen rapi
Setelah delapan tahun bergelut dalam usaha kue kering, barulah Liche membubuhi merek kue buatannya. Ia memilih Yorya yang merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Adya Kemara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Pada 2009, nama itu baru dipatenkan sebagai merek usaha.
Liche mengakui, usaha kue kering merupakan usaha musiman karena orang tidak membeli kue jenis ini setiap hari. Puncak penjualan baru tiba saat Lebaran dan Natal. Namun, Liche meyakini, kue kering pasti jadi kebutuhan selama Hari Raya. “Orang yang tidak punya uang pun bela-belain membeli kue kering,” tuturnya. Terbukti, pesanan kue kering Yorya selalu naik sekitar 15 persen setiap tahun.
Untuk itu, pada bulan-bulan biasa, Liche hanya bisa menjual 50 lusin stoples kue kering. Akan tetapi, saat Lebaran tiba, pesanan melonjak hingga 9.000 lusin kue selama sebulan. Kemudian, pada saat Natal, pesanan kue sekitar 2.000 lusin.
Untuk menyambut Lebaran mendatang, misalnya, Liche mulai memproduksi kue pada akhir Februari. Ia menargetkan penjualan kue kering Yorya mencapai 11.000 lusin. Dari usaha ini, Liche bisa mendapat omzet sekitar Rp 4 miliar saban tahun.
Namun, kini Liche tak sendirian. Selama empat tahun terakhir, anak keduanya, Ryan, membantunya dalam bidang pemasaran. Meskipun masih menempuh studi di Australia, sang anak membuatkan website Yorya Cookies. Ryan jugalah yang mengubah sistem keagenan Yorya.
Saat ini, jika ada orang yang tertarik menjadi agen Yorya, maka mereka bisa memilih dari tiga paket keagenan yang tersedia, yaitu Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, jika ingin jadi agen kue Yorya, Liche tidak mengajukan syarat-syarat tertentu.
Sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Jumlahnya saat ini sekitar 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah Rp 47.500–Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk ritel seharga Rp 70.000–Rp 75.000 per stoples.
Liche menambahkan, sekarang persaingan usaha kue kering sangat ketat jika dibandingkan saat ia merintis Yorya. Kondisi ini menantangnya untuk terus berkreasi dengan model-model baru. Sejauh ini, setidaknya 100 varian kue sudah tercipta dari tangan dinginnya.
Namun, kompetisi ini juga membuatnya rela menurunkan margin keuntungan. Kalau dulu, Liche bisa meraup margin laba hingga 125 persen. Sekarang, dari usaha kue kering, Liche mendapat margin keuntungan sekitar 40 persen. “Margin berkurang tidak apa-apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas,” kata dia.
Sumber & Gambar: bisniskeuangan.kompas.com
Bakat memasak sudah terlihat pada diri Liche sejak duduk di bangku SMA. Memiliki ibu yang hobi memasak, secara tak sengaja, menumbuhkan kecintaan Liche pada dunia masak-memasak. Lantas, sejak punya anak, Liche makin sering terjun di dapur, terutama untuk membuat kue kering.
“Awalnya saya hanya mengkreasikan makanan yang disukai anak-anak menjadi kue kering, seperti sereal coco crunch,” kisah perempuan yang 30 tahun menjadi dokter gigi di Pertamina ini.
Liche pun mengisahkan, dulu kue kering dibuat berdasarkan resep milik sang ibu. Ia sama sekali tak pernah ikut les membuat kue karena menurutnya resep dari ibunya sudah cukup.
Ternyata, penggemar kue kering bikinan Liche tak terbatas pada ketiga orang putranya. Banyak teman kantornya juga menyukai kue buatan Liche. Lantas, sejak 1996, Liche mulai menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples.
Setiap hari sepulang kerja, mulai pukul 18.00 hingga 01.00, Liche membuat kue pesanan teman-temannya. Ketika pesanan bertambah banyak, dia melibatkan tiga asisten rumah tangganya.
Lantaran rasa yang enak dan gurih, kue kering buatan Liche semakin laku. Order kue kering pun membeludak. Padahal ia mengaku tidak pernah menawarkan kue kering kepada orang-orang. Justru, konsumen yang rajin untuk merekomendasikan kue Liche kepada orang-orang.
Ketika krisis moneter melambungkan harga bahan baku kue, Liche sempat berpikir untuk mengerem laju usahanya dan mengurangi produksi. Akan tetapi, di luar dugaan, banyak konsumen yang justru mencari kue kering buatannya untuk Lebaran, meski harganya naik. Dari situlah, Liche menyadari tingginya kebutuhan kue kering pada saat Hari Raya.
Tak mau melewatkan kesempatan, Liche menambah karyawannya menjadi 10 orang. Dia juga membeli rumah persis di samping rumahnya untuk memperluas tempat produksi.
Tahun 2000-an, Liche mulai menerapkan sistem keagenan. “Pesanan selalu banyak. Akan tetapi, karena ini bisnis hobi, saya tidak terlalu memusingkan manajemen,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1955, ini. Saat itu, agen kue Liche hanyalah orang-orang yang ia kenal di tempat kerja.
Makin serius menekuni bisnisnya, Liche pun terus menambah varian kue kering. Beragam bahan baku, seperti buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat, ia racik menjadi varian baru kue kering. Liche mengatakan, kakak iparnya, yang juga pembuat kue, kerap memberi masukan untuk resep dan ide kue baru.
Semakin besar bisnis, jumlah karyawan Liche terus bertambah, begitu juga dengan kapasitas produksinya. Pada 2002, dia mendirikan pabrik seluas 600 meter persegi untuk menampung sekitar 80 karyawan. Tak tanggung-tanggung, Liche membenamkan investasi hingga Rp 1 miliar, di antaranya untuk membeli tiga oven.
Manajemen rapi
Setelah delapan tahun bergelut dalam usaha kue kering, barulah Liche membubuhi merek kue buatannya. Ia memilih Yorya yang merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Adya Kemara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Pada 2009, nama itu baru dipatenkan sebagai merek usaha.
Liche mengakui, usaha kue kering merupakan usaha musiman karena orang tidak membeli kue jenis ini setiap hari. Puncak penjualan baru tiba saat Lebaran dan Natal. Namun, Liche meyakini, kue kering pasti jadi kebutuhan selama Hari Raya. “Orang yang tidak punya uang pun bela-belain membeli kue kering,” tuturnya. Terbukti, pesanan kue kering Yorya selalu naik sekitar 15 persen setiap tahun.
Untuk itu, pada bulan-bulan biasa, Liche hanya bisa menjual 50 lusin stoples kue kering. Akan tetapi, saat Lebaran tiba, pesanan melonjak hingga 9.000 lusin kue selama sebulan. Kemudian, pada saat Natal, pesanan kue sekitar 2.000 lusin.
Untuk menyambut Lebaran mendatang, misalnya, Liche mulai memproduksi kue pada akhir Februari. Ia menargetkan penjualan kue kering Yorya mencapai 11.000 lusin. Dari usaha ini, Liche bisa mendapat omzet sekitar Rp 4 miliar saban tahun.
Namun, kini Liche tak sendirian. Selama empat tahun terakhir, anak keduanya, Ryan, membantunya dalam bidang pemasaran. Meskipun masih menempuh studi di Australia, sang anak membuatkan website Yorya Cookies. Ryan jugalah yang mengubah sistem keagenan Yorya.
Saat ini, jika ada orang yang tertarik menjadi agen Yorya, maka mereka bisa memilih dari tiga paket keagenan yang tersedia, yaitu Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, jika ingin jadi agen kue Yorya, Liche tidak mengajukan syarat-syarat tertentu.
Sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Jumlahnya saat ini sekitar 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah Rp 47.500–Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk ritel seharga Rp 70.000–Rp 75.000 per stoples.
Liche menambahkan, sekarang persaingan usaha kue kering sangat ketat jika dibandingkan saat ia merintis Yorya. Kondisi ini menantangnya untuk terus berkreasi dengan model-model baru. Sejauh ini, setidaknya 100 varian kue sudah tercipta dari tangan dinginnya.
Namun, kompetisi ini juga membuatnya rela menurunkan margin keuntungan. Kalau dulu, Liche bisa meraup margin laba hingga 125 persen. Sekarang, dari usaha kue kering, Liche mendapat margin keuntungan sekitar 40 persen. “Margin berkurang tidak apa-apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas,” kata dia.
Sumber & Gambar: bisniskeuangan.kompas.com
Berita UKM - Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Tangerang - Dadang, warga Kelurahan Petir, Tangerang, berhasil mengolah sampah menjadi barang bernilai dengan pendapatan Rp 4 juta sehari. Dadang di Tangerang, akhir pekan lalu mengatakan, sampah olahan dia banyak diminati perusahaan besar di Indonesia.
"Kami menyuplai 30.000 tatakan kipas setiap bulan dan masih kewalahan karena permintaan pasar sangat tinggi, sekitar 200 ribu hingga -250 ribu unit per bulan," ujarnya.
Dijelaskan, sampah yang kerap menjadi masalah dan persoalan bagi daerah Kota Metropolitan, bisa menjadi barang yang mempunyai nilai tinggi. Ditambahkan, dalam kurun waktu satu bulan, pabriknya yang sederhana tersebut bisa mengolah 70.000 ton sampah. "Kami bisa bantu Kota Tangerang dalam mengatasi sampah," ujarnya.
Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah, menambahkan, Kota Tangerang yang berpenduduk hampir dua juta jiwa, menjadi salah satu Kota Metropolitan di Indonesia yang masih bermasalah dengan persoalan sampah.
Oleh karena itu, pemkot Tangerang selama beberapa tahun terakhir terus menggalakkan budaya hidup bersih dikalangan masyarakat melalui program 1.000 Bank Central Sampah (BCS). Lalu Program Tangerang Jempol dan Program Kampung Hijau.
Semua program tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah langsung dari sumbernya atau Zero Waste System. "Permasalahan sampah di kota besar di Indonesia menjadi salah satu tantangan besar saat ini. Sampah yang dihasilkan di Kota Tangerang sebesar 10 ton per hari," kata dia.
sumber & gambar : antaranews.com
"Kami menyuplai 30.000 tatakan kipas setiap bulan dan masih kewalahan karena permintaan pasar sangat tinggi, sekitar 200 ribu hingga -250 ribu unit per bulan," ujarnya.
Dijelaskan, sampah yang kerap menjadi masalah dan persoalan bagi daerah Kota Metropolitan, bisa menjadi barang yang mempunyai nilai tinggi. Ditambahkan, dalam kurun waktu satu bulan, pabriknya yang sederhana tersebut bisa mengolah 70.000 ton sampah. "Kami bisa bantu Kota Tangerang dalam mengatasi sampah," ujarnya.
Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah, menambahkan, Kota Tangerang yang berpenduduk hampir dua juta jiwa, menjadi salah satu Kota Metropolitan di Indonesia yang masih bermasalah dengan persoalan sampah.
Oleh karena itu, pemkot Tangerang selama beberapa tahun terakhir terus menggalakkan budaya hidup bersih dikalangan masyarakat melalui program 1.000 Bank Central Sampah (BCS). Lalu Program Tangerang Jempol dan Program Kampung Hijau.
Semua program tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah langsung dari sumbernya atau Zero Waste System. "Permasalahan sampah di kota besar di Indonesia menjadi salah satu tantangan besar saat ini. Sampah yang dihasilkan di Kota Tangerang sebesar 10 ton per hari," kata dia.
sumber & gambar : antaranews.com
Berita UKM - Bisnis UKM
Seperti yang kita ketahui bahwa keberadaan Usaha Kecil Menengah (UKM) di suatu negara memang sangat vital. Begitu pula di Indonesia. Beberapa tahun belakangan banyak pihak mendorong gerakan kewirausahaan. Pemerintah dan swasta menampilkan iklan / himbauan untuk berani memulai usaha. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa UKM? Mengapa bukan high capital company?
Indonesia memiliki jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 240 juta jiwa, dan menurut catatan statistik sekitar 110 juta jiwa adalah usia produktif atau angkatan kerja. Akan tetapi, apakah seluruh angka tersebut memiliki pekerjaan dan penghasilan? Mampukah lapangan kerja yang ada di Indonesia saat ini menyerap seluruh dari angka usia produktif tersebut? Jawabannya tentu belum mampu. Itu sebabnya angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Belum lagi jika kita melihat tren kerja di luar negeri. Jutaan orang Indonesia berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Lalu apa yang bisa membuat itu semua membaik?
Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu solusi jitu untuk mengatasi masalah tersebut. Pahamilah bahwa negara-negara maju dan makmur memiliki jumlah wirausaha yang cukup banyak dan mampu menyerap tenaga kerja mereka. Bahkan kesempatan untuk berwirausaha di negara maju sangat besar. Itu sebabnya produk-produk yang kita konsumsi sehari-hari sebagian besar adalah produk dari negara-negara maju.
Sekarang mari kita berandai-andai. Jika Indonesia memiliki 10 juta wirausahawan yang memiliki usaha kecil atau menengah dengan rata-rata 5 karyawan yang membantunya, maka telah tercipta 50 juta lapangan kerja untuk menyerap pengangguran. Dari 50 juta orang yang bekerja di UKM dan berpenghasilan layak tersebut, masing-masing memiliki rata-rata 4 orang tanggungan, seperti keluarga, anak, istri/suami, dan orang tua. Maka sekitar 200 juta orang akan hidup berkecukupan hanya dari UKM.
Maka dari itu tugas pemerintah saat ini adalah mendorong dan mempermudah proses pertumbuhan UKM, agar semakin banyak UKM-UKM lahir, berkembang dan bersaing di pasar domestik. Jika sudah banyak terlahir, maka semua pihak termasuk pelaku UKM-nya sendiri harus mulai memikirkan untuk mengembangkan potensi usahanya agar menjadi lebih besar lagi. Jika demikian, Indonesia akan memiliki jutaan perusahaan yang sedang berkembang yang diharapkan 10 - 20 tahun lagi mampu berubah menjadi perusahaan besar dan berskala internasional. Indonesia harus bersiap menjadi negara dengan ekonomi maju, cerdas, kompetitif, dan makmur.
Sumber: linkedin.com
Gambar: https://liputan6-media-production.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/medias/23878/big/kerajinan-ukm-130329c.jpg
Indonesia memiliki jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 240 juta jiwa, dan menurut catatan statistik sekitar 110 juta jiwa adalah usia produktif atau angkatan kerja. Akan tetapi, apakah seluruh angka tersebut memiliki pekerjaan dan penghasilan? Mampukah lapangan kerja yang ada di Indonesia saat ini menyerap seluruh dari angka usia produktif tersebut? Jawabannya tentu belum mampu. Itu sebabnya angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Belum lagi jika kita melihat tren kerja di luar negeri. Jutaan orang Indonesia berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Lalu apa yang bisa membuat itu semua membaik?
Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu solusi jitu untuk mengatasi masalah tersebut. Pahamilah bahwa negara-negara maju dan makmur memiliki jumlah wirausaha yang cukup banyak dan mampu menyerap tenaga kerja mereka. Bahkan kesempatan untuk berwirausaha di negara maju sangat besar. Itu sebabnya produk-produk yang kita konsumsi sehari-hari sebagian besar adalah produk dari negara-negara maju.
Sekarang mari kita berandai-andai. Jika Indonesia memiliki 10 juta wirausahawan yang memiliki usaha kecil atau menengah dengan rata-rata 5 karyawan yang membantunya, maka telah tercipta 50 juta lapangan kerja untuk menyerap pengangguran. Dari 50 juta orang yang bekerja di UKM dan berpenghasilan layak tersebut, masing-masing memiliki rata-rata 4 orang tanggungan, seperti keluarga, anak, istri/suami, dan orang tua. Maka sekitar 200 juta orang akan hidup berkecukupan hanya dari UKM.
Maka dari itu tugas pemerintah saat ini adalah mendorong dan mempermudah proses pertumbuhan UKM, agar semakin banyak UKM-UKM lahir, berkembang dan bersaing di pasar domestik. Jika sudah banyak terlahir, maka semua pihak termasuk pelaku UKM-nya sendiri harus mulai memikirkan untuk mengembangkan potensi usahanya agar menjadi lebih besar lagi. Jika demikian, Indonesia akan memiliki jutaan perusahaan yang sedang berkembang yang diharapkan 10 - 20 tahun lagi mampu berubah menjadi perusahaan besar dan berskala internasional. Indonesia harus bersiap menjadi negara dengan ekonomi maju, cerdas, kompetitif, dan makmur.
Sumber: linkedin.com
Gambar: https://liputan6-media-production.s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/medias/23878/big/kerajinan-ukm-130329c.jpg
Berita UKM
Bagi Rahmi Salviviani, memiliki jejaring atau komunitas pertemanan sesama pebisnis adalah wadah untuk berkumpul, belajar dan mengajarkan tentang “ilmu ikhlas”. Giving without expect to take dalam artian yang sebenarnya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa mana mungkin hidup hanya memberi tanpa meminta? Silakan saja, setiap orang bebas berpendapat dan berbuat, namun tak bisa bebas dalam menerima efeknya. Mungkin juga ada yang beranggapan bahwa terlalu naif jika dimasa sekarang hidup ikhlas dan hanya berharap pada balasan Tuhan.
Orang yang berpikiran dan berbuat kecil hanya akan mendapatkan balasan yang kecil juga, itu hukum alamnya. Ikhlas berbagi bukanlah perkara yang kecil, karena bagi Rahmi, itulah tujuan penciptaan manusia sesungguhnya.
“Bisnis jalan dan berkembang, ownernya hidup seimbang, tetap berbagi tanpa takut miskin. Saya pikir ini adalah bentuk lengkap dari kebahagian dunia yang mudah-mudahan menjadi bekal kebaikan kehidupan kekal di akhirat kelak,” harapnya.
Energi positif dari pemikiran atau mindset yang memang dibangun saat dalam berkomunitas bisnis di TDA yang ia ikuti, berpengaruh hebat dalam kehidupan bisnis, keluarga dan spiritual. Kesempatan lainnya adalah bahwa ia diberikan tempat untuk berbagi, tak peduli sekecil apapun peran itu. Berbagi tanpa menunggu berada di puncak sukses menurut Rahmi adalah bekal untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh siapapun.
Rahmi juga menyatakan bahwa dirinya termasuk ‘berani’ dalam bisnis. Komunitasnya menjadi rem bagi dirinya agar bisa menjadi pemberani dan pintar, tak hanya sekadar nekat. Banyak yang bisa memulai bisnis namun tak banyak yang dapat mempertahankannya, salah satu penyebabnya karena kurangnya kontrol diri.
Rahmi berbisnis dibidang pendidikan sejak 2008. Pendidikan Taman Kanak-kanak pun dipilihnya. Ia meyakini bahwa apapun yang sedang Allah amanahkan bukanlah hal yang sia-sia. “Tidak penting bisnisnya apa, tapi seberapa bertanggungjawabnya kita dalam menjalankan kepercayaan Allah itu,” katanya optimis.
Diawal berbisnis Rahmi masih meggunakan merek orang lain. Belajar dari kekurangan dan kelebihan yang ada, dua tahun belakangan Rahmi memberanikan diri menggunakan brand sendiri yakni TK Alifa Kids, yang saat ini telah memiliki sembilan cabang di dua kota, Pekanbaru dan Palembang. Beberapa cabang adalah hasil kerjasama dengan investor. “Sudah lebih dari 20 orang yang ingin mewaralabakan TK ini, namun dengan berat hati kami harus menolak, karena menurut kami brand ini belum teruji, setidaknya belum sampai lima tahun dan sistem bisnis ini masih terus dalam perbaikan,” jelas Rahmi.
Rahmi mengkisahkan bahwa tadinya ia hanya seorang ibu rumahtangga biasa yang pernah bekerja namun memutuskan berhenti karena sudah memiliki anak. Dalam perjalanan, perempuan yang aktif ini ternyata tidak nyaman jika hanya berdiam diri. Ia pun bertekat untuk bisa menjadi solusi bagi suami, dan bukan ‘beban’. “Ternyata Allah SWT menggiring ke arah bisnis pendidikan ini. Apa yang menjadi tujuan saya terpenuhi, berbisnis namun tetap dapat mengurusi keluarga.”
Meskipun Rahmi dan suami tidak memiliki latar belakang pendidikan TK, mereka mempercayakan kepada ‘ahli’nya, yakni guru-guru TK yang bergabung dengan tim kecilnya. Dengan kontrol dan kepercayaan tim ini berkembang menjadi hampir 60 orang. “Saya meyakini apapun yang Allah titipkan sekarang ada maksudnya.”
Hampir semua bisnis memiliki nilai sosial sebagai syarat agar tetap bisa bertahan. Bisnis yang hanya memikirkan aspek keuntungan semata akan segera ditinggalkan tim, bahkan konsumennya. Berbisnis pendidikan baginya sangat menentramkan hati sekaligus menjadi tantangan tersendiri karena tugas utamanya adalah ‘mengelola manusia’. Diperlukan kemampuan memimpin yang sesuai dengan tim.
“Namun tidak ada yang tidak mungkin, para guru-guru TK kami ajak untuk berpikir besar. Beberapa dari mereka menjadi mandiri dengan memulai usaha sendiri. Bagi saya ini sebuah prestasi. Sebagian besar berhasil menjadi leader di cabang mereka masing-masing,” katanya.
Sumber : Buku Keajaiban Tangan Di Atas, Karya : @roniyuzirman dan @iimrusyamsi
Sumber photo : alifakids.blogspot.com
Orang yang berpikiran dan berbuat kecil hanya akan mendapatkan balasan yang kecil juga, itu hukum alamnya. Ikhlas berbagi bukanlah perkara yang kecil, karena bagi Rahmi, itulah tujuan penciptaan manusia sesungguhnya.
“Bisnis jalan dan berkembang, ownernya hidup seimbang, tetap berbagi tanpa takut miskin. Saya pikir ini adalah bentuk lengkap dari kebahagian dunia yang mudah-mudahan menjadi bekal kebaikan kehidupan kekal di akhirat kelak,” harapnya.
Energi positif dari pemikiran atau mindset yang memang dibangun saat dalam berkomunitas bisnis di TDA yang ia ikuti, berpengaruh hebat dalam kehidupan bisnis, keluarga dan spiritual. Kesempatan lainnya adalah bahwa ia diberikan tempat untuk berbagi, tak peduli sekecil apapun peran itu. Berbagi tanpa menunggu berada di puncak sukses menurut Rahmi adalah bekal untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh siapapun.
Rahmi juga menyatakan bahwa dirinya termasuk ‘berani’ dalam bisnis. Komunitasnya menjadi rem bagi dirinya agar bisa menjadi pemberani dan pintar, tak hanya sekadar nekat. Banyak yang bisa memulai bisnis namun tak banyak yang dapat mempertahankannya, salah satu penyebabnya karena kurangnya kontrol diri.
Rahmi berbisnis dibidang pendidikan sejak 2008. Pendidikan Taman Kanak-kanak pun dipilihnya. Ia meyakini bahwa apapun yang sedang Allah amanahkan bukanlah hal yang sia-sia. “Tidak penting bisnisnya apa, tapi seberapa bertanggungjawabnya kita dalam menjalankan kepercayaan Allah itu,” katanya optimis.
Diawal berbisnis Rahmi masih meggunakan merek orang lain. Belajar dari kekurangan dan kelebihan yang ada, dua tahun belakangan Rahmi memberanikan diri menggunakan brand sendiri yakni TK Alifa Kids, yang saat ini telah memiliki sembilan cabang di dua kota, Pekanbaru dan Palembang. Beberapa cabang adalah hasil kerjasama dengan investor. “Sudah lebih dari 20 orang yang ingin mewaralabakan TK ini, namun dengan berat hati kami harus menolak, karena menurut kami brand ini belum teruji, setidaknya belum sampai lima tahun dan sistem bisnis ini masih terus dalam perbaikan,” jelas Rahmi.
Rahmi mengkisahkan bahwa tadinya ia hanya seorang ibu rumahtangga biasa yang pernah bekerja namun memutuskan berhenti karena sudah memiliki anak. Dalam perjalanan, perempuan yang aktif ini ternyata tidak nyaman jika hanya berdiam diri. Ia pun bertekat untuk bisa menjadi solusi bagi suami, dan bukan ‘beban’. “Ternyata Allah SWT menggiring ke arah bisnis pendidikan ini. Apa yang menjadi tujuan saya terpenuhi, berbisnis namun tetap dapat mengurusi keluarga.”
Meskipun Rahmi dan suami tidak memiliki latar belakang pendidikan TK, mereka mempercayakan kepada ‘ahli’nya, yakni guru-guru TK yang bergabung dengan tim kecilnya. Dengan kontrol dan kepercayaan tim ini berkembang menjadi hampir 60 orang. “Saya meyakini apapun yang Allah titipkan sekarang ada maksudnya.”
Hampir semua bisnis memiliki nilai sosial sebagai syarat agar tetap bisa bertahan. Bisnis yang hanya memikirkan aspek keuntungan semata akan segera ditinggalkan tim, bahkan konsumennya. Berbisnis pendidikan baginya sangat menentramkan hati sekaligus menjadi tantangan tersendiri karena tugas utamanya adalah ‘mengelola manusia’. Diperlukan kemampuan memimpin yang sesuai dengan tim.
“Namun tidak ada yang tidak mungkin, para guru-guru TK kami ajak untuk berpikir besar. Beberapa dari mereka menjadi mandiri dengan memulai usaha sendiri. Bagi saya ini sebuah prestasi. Sebagian besar berhasil menjadi leader di cabang mereka masing-masing,” katanya.
Sumber : Buku Keajaiban Tangan Di Atas, Karya : @roniyuzirman dan @iimrusyamsi
Sumber photo : alifakids.blogspot.com
Berita UKM - Inspirasi Usaha
Jakarta - Uang dibutuhkan semua manusia modern untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memperoleh uang, seseorang bekerja pada orang lain atau membuka usaha sendiri. Tetapi, seringkali uang yang didapatkan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup.
Beragam sebab uang yang didapatkan tidak mencukupi kebutuhan hidup. Misalnya, karena harga barang-barang semakin tinggi atau karena semakin banyaknya barang-barang yang dibutuhkan.
Untuk itu, adakalanya seseorang memikirkan sebuah peluang usaha agar memiliki uang tambahan. Tentu, peluang usaha yang dipikirkan adalah usaha sampingan di luar pekerjaan sehari-hari.
Dilansir oleh PTMoney pada Sabtu (3/1/2014), berikut adalah 10 peluang usaha yang mungkin dapat Anda lakukan sebagai usaha sampingan di tahun 2015 ini :
1. Pengajar renang
Terkadang uang bisa datang dari hobi. Untuk mencari uang tambahan, Anda juga dapat memaksimalkan hobi yang Anda miliki, misalnya berenang. Tentu banyak orang yang masih belajar berenang dan membutuhkan seorang pengajar. Disinilah peluang usaha Anda untuk menghasilkan uang tambahan.
2. Blogging
Kesukaan Anda dalam dunia tulis menulis di Blog ternyata juga merupakan peluang usaha yang baik untuk datangkan uang tambahan. Jika Blog yang Anda kelola sudah tenar, akan lebih mudah menghasilkan uang dari sana. Misalnya, dengan menyediakan tempat iklan, menjual buku sendiri, menyediakan jasa seperti desain Blog atau pembuatan Blog serta menjual theme atau plugin.
3. Desain logo
Jika Anda cukup baik dalam Photoshop, CorelDRAW atau software sejenis, maka cobalah untuk membuat beberapa uang dengan menawarkan desain logo. Hal ini dapat dimulai dari orang-orang terdekat Anda.
4. Bisnis online
Tidak diragukan lagi, bisnis online menjadi tren yang cukup signifikan dalam menambah uang tambahan. Ada yang menjadikannya sebagai usaha utama, ada yang hanya menjadikannya sebagai usaha sampingan. Anda dapat mencoba cara ini.
5. Cuci mobil atau motor
Anda memiliki halaman rumah yang cukup besar? Cukup untuk beberapa kendaraan? Kalau ya, peluang usaha yang terbuka adalah usaha cuci mobil atau motor. Anda bisa menawarkannya ke tetangga dahulu dan hanya dibuka pada akhir pekan saat Anda di rumah.
6. Guru les
Selain memanfaatkan kerja fisik, kerja intelektual juga dapat menjadi usaha sampingan Anda. Jika Anda memiliki pengetahuan tertentu, entah itu matematika, fisika atau bahasa Inggris misalnya, Anda dapat membuka les privat di akhir pekan di rumah Anda. Atau, Anda juga bisa melamar ke bimbel untuk menjadi salah satu pengajar.
7. Jual minuman di hari Minggu
Ini adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Siapa yang tidak membutuhkan air minum setelah berolahraga di hari Minggu? Semua orang tentu butuh. Nah, jika Anda ada di tempat olahraga dan menjual air minum, bisa dipastikan dagangan Anda cepat laku.
8. Broker tiket
Beberapa orang malas untuk mengantri untuk mendapatkan sebuah tiket, entah itu tiket pertandingan ataupun tiket transportasi seperti kereta api. Anda bisa memanfaatkan kemalasan tersebut sebagai peluang usaha untuk datangkan uang tambahan.
9. Asuh bayi
Di akhir pekan, biasanya pasangan yang baru saja memiliki anak cukup enggan untuk membawa anaknya dalam kencan mereka. Ini adalah peluang usaha Anda. Anda bisa menawarkan jasa untuk mengasuh bayi selama pasangan tersebut pergi berkencan. Tetapi tentu, peluang usaha ini pada awalnya hanya bisa ditawarkan pada orang yang telah Anda kenal.
10. Kos-kosan
Punya rumah yang cukup besar dan ada ruangan ekstra? Mengapa tidak anda sewakan? Ini adalah peluang usaha sampingan yang cukup baik. Ditambah, Anda tidak perlu lagi melakukan apapun.
Sumber: bisnis.liputan6.com
Gambar: bisnis.liputan6.com
Beragam sebab uang yang didapatkan tidak mencukupi kebutuhan hidup. Misalnya, karena harga barang-barang semakin tinggi atau karena semakin banyaknya barang-barang yang dibutuhkan.
Untuk itu, adakalanya seseorang memikirkan sebuah peluang usaha agar memiliki uang tambahan. Tentu, peluang usaha yang dipikirkan adalah usaha sampingan di luar pekerjaan sehari-hari.
Dilansir oleh PTMoney pada Sabtu (3/1/2014), berikut adalah 10 peluang usaha yang mungkin dapat Anda lakukan sebagai usaha sampingan di tahun 2015 ini :
1. Pengajar renang
Terkadang uang bisa datang dari hobi. Untuk mencari uang tambahan, Anda juga dapat memaksimalkan hobi yang Anda miliki, misalnya berenang. Tentu banyak orang yang masih belajar berenang dan membutuhkan seorang pengajar. Disinilah peluang usaha Anda untuk menghasilkan uang tambahan.
2. Blogging
Kesukaan Anda dalam dunia tulis menulis di Blog ternyata juga merupakan peluang usaha yang baik untuk datangkan uang tambahan. Jika Blog yang Anda kelola sudah tenar, akan lebih mudah menghasilkan uang dari sana. Misalnya, dengan menyediakan tempat iklan, menjual buku sendiri, menyediakan jasa seperti desain Blog atau pembuatan Blog serta menjual theme atau plugin.
3. Desain logo
Jika Anda cukup baik dalam Photoshop, CorelDRAW atau software sejenis, maka cobalah untuk membuat beberapa uang dengan menawarkan desain logo. Hal ini dapat dimulai dari orang-orang terdekat Anda.
4. Bisnis online
Tidak diragukan lagi, bisnis online menjadi tren yang cukup signifikan dalam menambah uang tambahan. Ada yang menjadikannya sebagai usaha utama, ada yang hanya menjadikannya sebagai usaha sampingan. Anda dapat mencoba cara ini.
5. Cuci mobil atau motor
Anda memiliki halaman rumah yang cukup besar? Cukup untuk beberapa kendaraan? Kalau ya, peluang usaha yang terbuka adalah usaha cuci mobil atau motor. Anda bisa menawarkannya ke tetangga dahulu dan hanya dibuka pada akhir pekan saat Anda di rumah.
6. Guru les
Selain memanfaatkan kerja fisik, kerja intelektual juga dapat menjadi usaha sampingan Anda. Jika Anda memiliki pengetahuan tertentu, entah itu matematika, fisika atau bahasa Inggris misalnya, Anda dapat membuka les privat di akhir pekan di rumah Anda. Atau, Anda juga bisa melamar ke bimbel untuk menjadi salah satu pengajar.
7. Jual minuman di hari Minggu
Ini adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Siapa yang tidak membutuhkan air minum setelah berolahraga di hari Minggu? Semua orang tentu butuh. Nah, jika Anda ada di tempat olahraga dan menjual air minum, bisa dipastikan dagangan Anda cepat laku.
8. Broker tiket
Beberapa orang malas untuk mengantri untuk mendapatkan sebuah tiket, entah itu tiket pertandingan ataupun tiket transportasi seperti kereta api. Anda bisa memanfaatkan kemalasan tersebut sebagai peluang usaha untuk datangkan uang tambahan.
9. Asuh bayi
Di akhir pekan, biasanya pasangan yang baru saja memiliki anak cukup enggan untuk membawa anaknya dalam kencan mereka. Ini adalah peluang usaha Anda. Anda bisa menawarkan jasa untuk mengasuh bayi selama pasangan tersebut pergi berkencan. Tetapi tentu, peluang usaha ini pada awalnya hanya bisa ditawarkan pada orang yang telah Anda kenal.
10. Kos-kosan
Punya rumah yang cukup besar dan ada ruangan ekstra? Mengapa tidak anda sewakan? Ini adalah peluang usaha sampingan yang cukup baik. Ditambah, Anda tidak perlu lagi melakukan apapun.
Sumber: bisnis.liputan6.com
Gambar: bisnis.liputan6.com
Berita UKM - Bisnis UKM
Indonesia memiliki potensi pengembangan industri kreatif yang sangat besar. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat bahwa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa. Setiap suku memiliki bahasa, tarian, rumah adat, pakaian adat, dan makanan khas yang beragam. Selain kekayaan demografi, Indonesia tersusun dari 17.504 gugusan pulau; menjadikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang mengagumkan. Kekayaan budaya nusantara inilah yang menjadi penyubur berkembangnya industri kreatif di Indonesia sekaligus suatu keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki negara lain.
Indonesia yang saat ini tengah mengalami bonus demografi memiliki porsi jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Industri kreatif yang banyak dimotori kaum muda dapat berkembang pesat saat bonus demografi berlangsung.
Selain faktor kekayaan budaya dan sumber daya manusia, Indonesia juga mengalami kondisi ekonomi yang cukup baik. Hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah. Peningkatan kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat merupakan peluang yang menguntungkan bagi industri kreatif dalam negeri untuk terus berkembang. Masyarakat rela membayar sedikit mahal untuk membeli barang yang lebih berkualitas.
Di sisi lain, industri kreatif domestik juga menghadapi tantangan yang cukup berat. Memasuki era pasar bebas ASEAN akhir 2015 mendatang, industri kreatif dalam negeri harus bersaing dengan produk-produk impor dengan harga dan kualitas yang kompetitif, khususnya produk-produk dari Singapura, Malaysia dan Thailand. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan kenaikan jumlah masyarakat berpendapatan menengah menjadikan Indonesia sebuah pasar yang sangat menarik, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan ASEAN, tetapi juga negara lain seperti Jepang, Korea, China, dan Eropa. Selain kualitas produk, faktor lain yang tidak kalah penting bagi produk industri kreatif adalah menciptakan brand image produk lokal. Strategi marketing dan branding produk industri kreatif Indonesia perlu ditingkatkan sehingga dapat menghasilkan nilai tambah dan berdaya saing.
Industri kreatif sangat bergantung dengan kualitas sumber daya manusia. Bonus demografi di Indonesia dapat mendorong berkembangnya industri kreatif asal diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika banyaknya jumlah penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas, kondisi tersebut hanya akan menambah angka ketergantungan.
Peluang dan Tantangan Industri Kreatif Indonesia
Dari 15 sektor industri kreatif, fesyen merupakan salah satu industri yang berkontribusi besar dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia. Pada tahun 2013 lalu, nilai output industri fesyen mencapai 181 trili- un rupiah. Jika industri kreatif menyumbang 7% kepada Produk Domestik Bruto, maka 2%-nya berasal dari in- dustri fesyen. Pertumbuhan industri fesyen tahun 2013 adalah sebesar 6,4% atau lebih besar dari pertumbu- han nasional yang sebesar 5,7%. Dalam perdagangan internasional, nilai ekspor industri fesyen mencapai 76 triliun rupiah pada tahun 2013.
Bertambahnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah di Indonesia merupakan salah satu faktor pendorong berkembangnya industri fesyen. Banyak masyarakat yang bersedia membayar sedikit lebih ma- hal untuk produk desain yang lebih baik, terutama untuk brand dalam negeri.
Selain Malaysia, produk fesyen yang saat ini marak diproduksi industri kreatif di Indonesia adalah busana muslim. Berbagai produk busana muslim yang telah mendunia di antaranya Mumtaz, Dian Pelangi, Shafira, Up2date, dll. Diperkirakan setiap tahunnya transaksi sektor busana muslim di pasar dunia mencapai US$ 96 juta dolar atau sebesar Rp. 820,799 triliun.
Sumber : Jurmal Kadin UKM Edisi 1-8 Agustus 2014
Sumber foto : http://kanalsatu.com
Indonesia yang saat ini tengah mengalami bonus demografi memiliki porsi jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Industri kreatif yang banyak dimotori kaum muda dapat berkembang pesat saat bonus demografi berlangsung.
Selain faktor kekayaan budaya dan sumber daya manusia, Indonesia juga mengalami kondisi ekonomi yang cukup baik. Hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah. Peningkatan kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat merupakan peluang yang menguntungkan bagi industri kreatif dalam negeri untuk terus berkembang. Masyarakat rela membayar sedikit mahal untuk membeli barang yang lebih berkualitas.
Di sisi lain, industri kreatif domestik juga menghadapi tantangan yang cukup berat. Memasuki era pasar bebas ASEAN akhir 2015 mendatang, industri kreatif dalam negeri harus bersaing dengan produk-produk impor dengan harga dan kualitas yang kompetitif, khususnya produk-produk dari Singapura, Malaysia dan Thailand. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan kenaikan jumlah masyarakat berpendapatan menengah menjadikan Indonesia sebuah pasar yang sangat menarik, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan ASEAN, tetapi juga negara lain seperti Jepang, Korea, China, dan Eropa. Selain kualitas produk, faktor lain yang tidak kalah penting bagi produk industri kreatif adalah menciptakan brand image produk lokal. Strategi marketing dan branding produk industri kreatif Indonesia perlu ditingkatkan sehingga dapat menghasilkan nilai tambah dan berdaya saing.
Industri kreatif sangat bergantung dengan kualitas sumber daya manusia. Bonus demografi di Indonesia dapat mendorong berkembangnya industri kreatif asal diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika banyaknya jumlah penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas, kondisi tersebut hanya akan menambah angka ketergantungan.
Peluang dan Tantangan Industri Kreatif Indonesia
Dari 15 sektor industri kreatif, fesyen merupakan salah satu industri yang berkontribusi besar dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia. Pada tahun 2013 lalu, nilai output industri fesyen mencapai 181 trili- un rupiah. Jika industri kreatif menyumbang 7% kepada Produk Domestik Bruto, maka 2%-nya berasal dari in- dustri fesyen. Pertumbuhan industri fesyen tahun 2013 adalah sebesar 6,4% atau lebih besar dari pertumbu- han nasional yang sebesar 5,7%. Dalam perdagangan internasional, nilai ekspor industri fesyen mencapai 76 triliun rupiah pada tahun 2013.
Bertambahnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah di Indonesia merupakan salah satu faktor pendorong berkembangnya industri fesyen. Banyak masyarakat yang bersedia membayar sedikit lebih ma- hal untuk produk desain yang lebih baik, terutama untuk brand dalam negeri.
Selain Malaysia, produk fesyen yang saat ini marak diproduksi industri kreatif di Indonesia adalah busana muslim. Berbagai produk busana muslim yang telah mendunia di antaranya Mumtaz, Dian Pelangi, Shafira, Up2date, dll. Diperkirakan setiap tahunnya transaksi sektor busana muslim di pasar dunia mencapai US$ 96 juta dolar atau sebesar Rp. 820,799 triliun.
Sumber : Jurmal Kadin UKM Edisi 1-8 Agustus 2014
Sumber foto : http://kanalsatu.com
Berita UKM
Produk e-fishery ciptaan Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy merupakan teknologi tepat guna dan menawarkan solusi bagi pembudidaya ikan. Produk ini merupakan alat pemberi pakan otomatis bagi ikan dan biota perikanan lain. Pemberian pakan ini dapat dilakukan secara remote dengan hanya melalui perangkat ponsel atau tablet yang terhubung dengan internet. Inovasi ciptaan Gibran ini bertujuan semata-mata untuk mengembangkan bisnis ikan air tawar di Indonesia.
Terakhir, e-fishery memenangkan kompetisi Get In The Ring dan memenangkan uang Rp 1,2 juta dolar, atau Rp 12 miliar. “e-Fishery adalah sistem cerdas pemberi pakan untuk budidaya ikan dan udang. Alat ini bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan, serta mencatat dan melaporkan performa pemberian pakannya melalui internet,” katanya.
Alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat. Selain itu, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Penggunanya dapat mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun mereka berada secara lengkap. Tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan sehingga berdampak pada kerugian.
“Berawal dari memulai bisnis sebagai petani ikan lele, saya pun menyadari adanya permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, khususnya dalam pemberian pakan ikan. Dari hal inilah saya membaca sebuah peluang untuk sektor inovasi sistem pendukung di bisnisnya,” ujarnya.
Tantangannya dalam pengembangan bisnis ini ada di proses riset, manufaktur, dan pengenalan teknologi baru ke masyarakat. Seiring berjalannya waktu, e-Fishery pun banyak melakukan penyempurnaan demi menjaga kualitas produk. Dengan mengusung konsep user friendly, pengaturan untuk e-Fishery sangat mudah dan bisa digunakan oleh siapapun. e-Fishery juga dapat memberikan pakan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan, dengan penjadwalan yang mudah dan teratur.
Bahkan, e-Fishery memiliki fitur real-time monitoring yang dapat memberikan laporan pemberian pakan secara langsung yang dapat diakses kapanpun dan di manapun melalui perangkat Anda. Oleh karena itu, inovasi harus terus dilakukan setiap saat. “Sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang menggunakan dan terjual di atas 150 unit,” jelasnya.
Ia mengatakan, setiap produk memiliki fitur yang berbeda-beda. Seperti ukurannya saja sudah berbeda-beda. Kemudian ada yang level basic, ada juga software yang berbeda, dan sebagainya. Sedangkan harga jualnya di antara Rp 7-9 juta. “Perkembangannya bagus, trennya positif. Dari segi permintaan pasar juga terus naik, dan teknologinya semakin berkembang. Tapi seperti kata Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI bahwa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai pihak asing yang mencari ikan di Indonesia justru mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada orang Indonesia sendiri,” tambahnya.
Kekuatan dari setiap aktivitas kita ada di visi dan niat. Kebanyakan pengusaha muda memutuskan untuk berhenti saat menghadapi kegagalan karena visi dan niatnya yang kurang kuat. Saat visi kita cukup besar dan niat kita jernih, semua tantangan justru akan menjadi energi,” ujarnya.
Sumber: detik.com
Terakhir, e-fishery memenangkan kompetisi Get In The Ring dan memenangkan uang Rp 1,2 juta dolar, atau Rp 12 miliar. “e-Fishery adalah sistem cerdas pemberi pakan untuk budidaya ikan dan udang. Alat ini bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan, serta mencatat dan melaporkan performa pemberian pakannya melalui internet,” katanya.
Alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat. Selain itu, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Penggunanya dapat mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun mereka berada secara lengkap. Tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan sehingga berdampak pada kerugian.
“Berawal dari memulai bisnis sebagai petani ikan lele, saya pun menyadari adanya permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, khususnya dalam pemberian pakan ikan. Dari hal inilah saya membaca sebuah peluang untuk sektor inovasi sistem pendukung di bisnisnya,” ujarnya.
Tantangannya dalam pengembangan bisnis ini ada di proses riset, manufaktur, dan pengenalan teknologi baru ke masyarakat. Seiring berjalannya waktu, e-Fishery pun banyak melakukan penyempurnaan demi menjaga kualitas produk. Dengan mengusung konsep user friendly, pengaturan untuk e-Fishery sangat mudah dan bisa digunakan oleh siapapun. e-Fishery juga dapat memberikan pakan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan, dengan penjadwalan yang mudah dan teratur.
Bahkan, e-Fishery memiliki fitur real-time monitoring yang dapat memberikan laporan pemberian pakan secara langsung yang dapat diakses kapanpun dan di manapun melalui perangkat Anda. Oleh karena itu, inovasi harus terus dilakukan setiap saat. “Sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang menggunakan dan terjual di atas 150 unit,” jelasnya.
Ia mengatakan, setiap produk memiliki fitur yang berbeda-beda. Seperti ukurannya saja sudah berbeda-beda. Kemudian ada yang level basic, ada juga software yang berbeda, dan sebagainya. Sedangkan harga jualnya di antara Rp 7-9 juta. “Perkembangannya bagus, trennya positif. Dari segi permintaan pasar juga terus naik, dan teknologinya semakin berkembang. Tapi seperti kata Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI bahwa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai pihak asing yang mencari ikan di Indonesia justru mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada orang Indonesia sendiri,” tambahnya.
Kekuatan dari setiap aktivitas kita ada di visi dan niat. Kebanyakan pengusaha muda memutuskan untuk berhenti saat menghadapi kegagalan karena visi dan niatnya yang kurang kuat. Saat visi kita cukup besar dan niat kita jernih, semua tantangan justru akan menjadi energi,” ujarnya.
Sumber: detik.com
Berita UKM - Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Kalau kita membaca kata Olympic pasti yang terbayang di pikiran kita adalah sebuah pesta olahraga terbesar di dunia, atau dalam bahasa Indonesia disebut Olimpiade. Tapi selain konotasi yang langsung berhubungan dengan olahraga, ternyata dalam dunia bisnis, kata tersebut juga telah tercipta sebuah konotasi yang berhubungan dengan produk inovatif yang sangat melekat di benak masyarakat Indonesia, yaitu produk furnitur lokal bermerek Olympic.
Brand Olympic adalah pionir produk bongkar pasang atau biasa disebut knock down. Olympic mulai dikenal luas pada era 1980-an dan sukses merajai pasar lokal furnitur kelas knock down hingga 3 dekade, bahkan kini selain mampu menguasai pasar lokal juga sukses menancapkan kakinya di mancanegara dengan penetrasinya merajai pasar di timur tengah. Dengan kekuatan 3.000 lebih toko yang menjual produknya di seluruh Indonesia, 23 pabrik di 23 provinsi, kantor cabang di Dubai dan China menunjukkan betapa kuatnya eksistensi dan rapinya jaringan pemasaran produk yang berkantor pusat di Kedung Halang Bogor ini.
Siapa tokoh dibalik sukses Olympic, raja furnitur knock down tersebut? Dia adalah Au Bintoro. Pria kelahiran Tembilahan, Riau pada tanggal 1 Agustus 1952. Kisah suksesnya berawal saat ia masih berprofesi utama sebagai pembuat box speaker. Ia mengamati bahwa banyak hal yang tidak efisien ia temukan dalam bisnis furnitur, mulai dari beratnya bahan baku kayu, banyaknya tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkut, banyaknya ruang yang terbuang saat distribusi, misalnya satu truk hanya bisa mengangkut beberapa meja saja karena posisinya memakan tempat, yang akhirnya membebani konsumen dengan biaya angkut yang kadang lebih mahal dari harga barang pesanannya.
Dari pengamatannya tersebut, Au melihat adanya peluang usaha yang besar bila mampu merubah kondisi tersebut menjadi lebih efisien. Ia berpikir alangkah baiknya bila ada produk furnitur yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Yang pertama terpikirkan adalah merubah layout dalam sistem distribusi. Kemudian mulailah ia bereksperimen, pertama yang ia buat adalah meja yang bisa dibongkar pasang menggunakan sekrup sebagai pengikat bagian-bagian mejanya. Dengan idenya ini, ia juga berharap ongkos pengangkutan jadi lebih murah dan mudah. Permasalahan timbul karena sekrup sebagai pengikat bagian-bagian meja tidak cukup kuat untuk menahan bobot kayu yang berat. Dari situ ia kemudian mencoba membuat meja dari bahan baku box speaker miliknya untuk mengatasi masalah beratnya bobot meja yang berbahan kayu.
Percobaannya berhasil, Ia sukses menciptakan meja yang lebih kecil, ringan dan mudah dibongkar pasangkan dengan sekrup sebagai pengikatnya. Produk ini selain mudah dibawa, lebih murah dan tak membutuhkan banyak tenaga untuk mengangkutnya, juga memberikan keuntungan bagi penjual yaitu biaya gudang jadi lebih murah, karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang, bahkan si penjual bisa menyimpan stok barang lebih banyak.
Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker setelah mencoba menjual meja hasil kreasinya ke toko furnitur dan ternyata laku keras. Tahun 1986, Au Bintoro meresmikan PT. Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja. Kenapa produknya dinamai “Olympic”? Saat itu tahun 1984 memang tengah berlangsung pesta Olimpiade di Los Angeles, Amerika Serikat, Au berharap label produksinya bisa sehebat Olimpiade yang gaungnya terdengar diseluruh dunia.
Terbukti, kini perusahaannya telah berkembang pesat, sukses merambah ke berbagai negara dan mampu menjual beragam jenis furnitur sampai 100 ribu unit per bulan. Furnitur tersebut diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Menempati areal seluas 14 hektare, Au Bintoro mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan dengan kapasitas produksi 2.000 pak produk per hari, mulai dari meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan masih banyak lainnya. Pabrik ini mengerjakan furnitur untuk lima merek, yakni Olympic, Albatros, Solid, Jaliteng dan Procella furnitur yang ditujukan untuk target pasar berbeda. Sebut saja Olympic yang lebih mengarah pada kalangan menengah ke bawah, sedangkan Silent dan Albatros menyasar segmen menengah ke atas dan furniture berharga murah dengan merek Jaliteng.
Bila kita ingin sukses menjadi pengusaha, carilah ide bisnis dengan mengamati kejadian sehari-hari, temukan masalah dan coba perbaiki masalah dan tawarkan solusi yang benar-benar efektif mampu menyelesaikan masalah. Kisah sukses pak Au Bintoro adalah salah satu contoh yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Selamat Berwirausaha Sukses!
Sumber : wartawirausaha.com
Sumber foto : wartawirausaha.com
Brand Olympic adalah pionir produk bongkar pasang atau biasa disebut knock down. Olympic mulai dikenal luas pada era 1980-an dan sukses merajai pasar lokal furnitur kelas knock down hingga 3 dekade, bahkan kini selain mampu menguasai pasar lokal juga sukses menancapkan kakinya di mancanegara dengan penetrasinya merajai pasar di timur tengah. Dengan kekuatan 3.000 lebih toko yang menjual produknya di seluruh Indonesia, 23 pabrik di 23 provinsi, kantor cabang di Dubai dan China menunjukkan betapa kuatnya eksistensi dan rapinya jaringan pemasaran produk yang berkantor pusat di Kedung Halang Bogor ini.
Siapa tokoh dibalik sukses Olympic, raja furnitur knock down tersebut? Dia adalah Au Bintoro. Pria kelahiran Tembilahan, Riau pada tanggal 1 Agustus 1952. Kisah suksesnya berawal saat ia masih berprofesi utama sebagai pembuat box speaker. Ia mengamati bahwa banyak hal yang tidak efisien ia temukan dalam bisnis furnitur, mulai dari beratnya bahan baku kayu, banyaknya tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkut, banyaknya ruang yang terbuang saat distribusi, misalnya satu truk hanya bisa mengangkut beberapa meja saja karena posisinya memakan tempat, yang akhirnya membebani konsumen dengan biaya angkut yang kadang lebih mahal dari harga barang pesanannya.
Dari pengamatannya tersebut, Au melihat adanya peluang usaha yang besar bila mampu merubah kondisi tersebut menjadi lebih efisien. Ia berpikir alangkah baiknya bila ada produk furnitur yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Yang pertama terpikirkan adalah merubah layout dalam sistem distribusi. Kemudian mulailah ia bereksperimen, pertama yang ia buat adalah meja yang bisa dibongkar pasang menggunakan sekrup sebagai pengikat bagian-bagian mejanya. Dengan idenya ini, ia juga berharap ongkos pengangkutan jadi lebih murah dan mudah. Permasalahan timbul karena sekrup sebagai pengikat bagian-bagian meja tidak cukup kuat untuk menahan bobot kayu yang berat. Dari situ ia kemudian mencoba membuat meja dari bahan baku box speaker miliknya untuk mengatasi masalah beratnya bobot meja yang berbahan kayu.
Percobaannya berhasil, Ia sukses menciptakan meja yang lebih kecil, ringan dan mudah dibongkar pasangkan dengan sekrup sebagai pengikatnya. Produk ini selain mudah dibawa, lebih murah dan tak membutuhkan banyak tenaga untuk mengangkutnya, juga memberikan keuntungan bagi penjual yaitu biaya gudang jadi lebih murah, karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang, bahkan si penjual bisa menyimpan stok barang lebih banyak.
Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker setelah mencoba menjual meja hasil kreasinya ke toko furnitur dan ternyata laku keras. Tahun 1986, Au Bintoro meresmikan PT. Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja. Kenapa produknya dinamai “Olympic”? Saat itu tahun 1984 memang tengah berlangsung pesta Olimpiade di Los Angeles, Amerika Serikat, Au berharap label produksinya bisa sehebat Olimpiade yang gaungnya terdengar diseluruh dunia.
Terbukti, kini perusahaannya telah berkembang pesat, sukses merambah ke berbagai negara dan mampu menjual beragam jenis furnitur sampai 100 ribu unit per bulan. Furnitur tersebut diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Menempati areal seluas 14 hektare, Au Bintoro mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan dengan kapasitas produksi 2.000 pak produk per hari, mulai dari meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan masih banyak lainnya. Pabrik ini mengerjakan furnitur untuk lima merek, yakni Olympic, Albatros, Solid, Jaliteng dan Procella furnitur yang ditujukan untuk target pasar berbeda. Sebut saja Olympic yang lebih mengarah pada kalangan menengah ke bawah, sedangkan Silent dan Albatros menyasar segmen menengah ke atas dan furniture berharga murah dengan merek Jaliteng.
Bila kita ingin sukses menjadi pengusaha, carilah ide bisnis dengan mengamati kejadian sehari-hari, temukan masalah dan coba perbaiki masalah dan tawarkan solusi yang benar-benar efektif mampu menyelesaikan masalah. Kisah sukses pak Au Bintoro adalah salah satu contoh yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Selamat Berwirausaha Sukses!
Sumber : wartawirausaha.com
Sumber foto : wartawirausaha.com
Berita UKM - Inspirasi Usaha
JAKARTA - Menteri Koperasi dan UMKM AAGN Puspayoga mengungkapkan pemerintah akan melanjutkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) lantaran masih dibutuhkan. "Program ini masih diperlukan oleh para pelaku koperasi dan UKM," kata Puspayoga dalam keterangan pers yang diterima Bisnis di Jakarta.
Untuk itu, kata dia, KUR akan tetap dilaksanakan pada tahun depan dengan beberapa evaluasi. Lantara, kata dia, tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) program KUR yang mencapai 4,2% terlalu tinggi atau melampaui batas toleransi. Namun, pihaknya menilai program itu masih diperlukan oleh para pelaku koperasi dan UKM. "Jadi ke depan kita akan evaluasi bank-bank penyalur KUR," katanya.
Menurut Menteri, bank penyalur KUR yang tingkat kredit macetnya cukup tinggi tidak akan lagi diizinkan menjadi bank penyalur KUR.
Sumber
Untuk itu, kata dia, KUR akan tetap dilaksanakan pada tahun depan dengan beberapa evaluasi. Lantara, kata dia, tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) program KUR yang mencapai 4,2% terlalu tinggi atau melampaui batas toleransi. Namun, pihaknya menilai program itu masih diperlukan oleh para pelaku koperasi dan UKM. "Jadi ke depan kita akan evaluasi bank-bank penyalur KUR," katanya.
Menurut Menteri, bank penyalur KUR yang tingkat kredit macetnya cukup tinggi tidak akan lagi diizinkan menjadi bank penyalur KUR.
Sumber
Berita UKM
Langganan:
Komentar (Atom)












